Jumat, 13 November 2015

THE POWER OF HEART (KEKUATAN HATI)

Manusia hidup di dunia mempunyai HATI.

Hati selalu bergembira

hati suka tersenyum dan bahagia

itulah sifatnya yang hakiki.

Berawal dari bayi yang melakukannya secara alami

lalu saat anda masih muda

atau ketika anda dalam masa bertumbuh

bahkan saat bertambah tua pun hati kan selalu tersenyum dan bahagia.

Namun jika hati kita suka tersenyum,


mengapa begitu banyak keputusasaan dan kesusahan?

mengapa muncul teror dan ketakutan?

mengapa ada begitu banyak prahara dan konflik?

mengapa orang terbebani?

Itulah akibat seringnya kita hidup dikendalikan ego


Otak yang dituntun ego, ego menciptakan nafsu,

nafsu mengutamakan keserakahan,

keserakahan melahirkan ambisi,

ambisi menumbuhkan kesombongan.

Ego hidup di dalam daging.


Ego menuntut.


Ego penuh keinginan.


Ego sekedar mengatakan.


Ego adalah ilusi

Ketika ego telah menjadi nahkoda kehidupan kita 

hati kita pun tertutup.

Tinggal di dalam otak yang dikendalikan ego,

maka awan gelap menyelimuti hati kita.

Cahaya dan kasih kebenaran hati kita terhalang pancarannya saat berusaha menembus selimut awan gelap tersebut.

Awan gelap itu senantiasa menyelimuti kita ibarat terjebak dalam kabut, terjerumus dalam longsor, tenggelam dalam banjir.

Hingga senantiasa jatuh dalam lubang sama, lalu hilanglah jati diri kita.

Kita mengalami amnesia dan kita pun lupa,

mengapa kita ada di sini, di bumi ini?

Kita tidak dapat lagi menyadari untuk apa kita menjalani hidup fana ini?

Kita di sini sekedar menginap dalam suatu waktu yang singkat

Kita terlahir di sini bukan permainan dadu, yang bukan untuk sekedar bertaruh peruntungan

Kita lahir untuk satu alasan penting

Kita hadir di kehidupan dalam suatu tujuan sejati

Maka bukalah hatimu…

Biarkan kekuatan cahaya kebenaran hati kita menerobos awan gelap ego kita

Di dunia ini kita menjadi pelita kasih dan pemancar cahaya terang hati kita,

yang bersumber dari energi kasih dan cahaya sejati,

Dialah Sang Maha Kuasa Ilahi sumber segala energi sejati,

rumah yang terutama,


sumber dari diri sejati yang murni.

 Hati bersumber dari Ruh yang menghidupi. 

Kelembutan kasih memancar dari hati kita.

 Hati adalah pusat dan pimpinan segala kekuatan manusia, terletak di tengah raga nyata kita.

Ia mengatur rasa dan karsa, untuk merasakan petuah Ilahi

Ia menuntun akal dan pikiran, untuk berpikir dan menjelaskan kebenaran sejati hingga dipahami dengan tepat

Ia mengendalikan nafsu dan kehendak, untuk menjadikan diri yang bermartabat mulia dan pengabdi Ilahi yang agung.

Hati tempat luas untuk menganalisa benar dan salah

Ia skala untuk mengukur baik dan buruk

Ia pengadilan untuk memutuskan selamat dan celaka

Begitulah hingga segala sistem hidup terkendali.

Sungguh mudah menikmati hati kita dan itu sangat alami, sebab diliputi kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

Saat untuk ada di hati kita sekarang, adalah jawaban siapa diri kita.

Saat untuk damai dengan hati kita, adalah jawaban mengapa kita harus mengasihi semesta alam dari perwujudan Sang Ilahi.

Saat merenung menyusuri batin penuh introspeksi dalam lubuk hati kita, adalah jawaban harus bagaimanakah kita.

Hati bersumber dari Ruh yang menghidupi.

Hati menerima. Hati selalu memberi.

Hati penuh kasih dan syukur.

Hati melihat kenyataan.

Jadi tenanglah dan tersenyumlah dengan tulus


nikmati kasih sayang Sang Ilahi dalam HATI anda


hingga tiba di saat kita menuju ke kediaman abadi.





Terinspirasi dari :
Seminar Reiki Tummo “The Heart” oleh Paguyuban Reiki Padmajaya
Video Tembang Macapat “Javanese Wisdom” oleh Ki Riyanto
disusun di Malang, Anggara Pon 10-11-2015
diselesaikan di Yogyakarta, Sukra Umanis 13-11-2015
oleh,
Lady Sion

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 10 November 2015

10th November as a Heroes Day in Republic of Indonesia


Seventy years ago, there was a great incident in the history of Indonesia that is a big battle of Surabaya. This incident continues to be remembered by Indonesian people with establish the date November 10th as a Heroes Day and Surabaya recognized as The City of Heroes.

Battle of Surabaya

One of the most important battles of the Indonesian revolution. The incident was a big war between Indonesian army and Dutch troops happened in Surabaya on November 10th 1945. This battle was first war between Indonesian troops and foreign troops after Proclamation of Indonesian Independence and a formidable war in history of Indonesian Revolution which being nationality symbol of resistance to colonialism.
Chronology about battle of Surabaya happened due to the arrival of allies troops and they attacked Indonesia. Not only that, Dutch troops also behind allies because they still ambitious to rule Indonesia again. From this incident also known that  British Brigadier Mallaby have been killed. Then, after British Brigadier Mallaby killed, his successor General Major Robert Mansergh gave ultimatum to the republicans inside the city to surrender until November 10th at 6 o’clock but they refused.
In the morning of November 10th 1945, British soldiers attacked Surabaya massively. They began bombing from air to Surabaya government buildings then they mobilize approximate 30.000 infantery, a number of planes, tanks, and warships.
Then British army continued to bombard Surabaya city with cannon from seashore and land. After that, the resistance of Indonesian troops and military flared up throughout the city with active assistance from civil residents. The involvement of civil residents to this battle resulted in thousands of civilians falling victim in that battle, both dead and wounded. 

Bung Tomo 

He was the Indonesian Revolutionary Leader was the most respected. He was a courageous Surabayan youth (Arek Suroboyo) also. He represents the spirit of the revolutionary struggle of Indonesian major at that time.
Bung Tomo
British parties supossed that the fight in Surabaya can be conquered for three days. Community figures such as youths pioneer, Bung Tomo which have great influence and charismatic in the communities always encouraging the spirit of Surabaya youths to resistance allies and colonialism. So the resistance continues although British allies attacked massively.
Religious figures which consists of Moslem clerics from Javanese religious boarding school such as KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, etc also mobilized their religious pupil and civil residents as resistance militia (NB : At that time,citizens was not very obedient to governement but they more obedient to religious leaders) so this war lasted extremely long, from day to day, until from week to week more. Resistance of the people who originally spontaneous and uncoordinated, increasingly organized from day to day. This large scale battle was reached until three weeks.

At least 6.000 until 16.000 Indonesian fighters were killed and 200.000 civilians were displaced from Surabaya. While victims of Great Britain dan India troops only 600 until 2000 soldiers. That bloody battle in Surabaya which have killed a thousand of casualties mobilized resistance of the people throughout Indonesia to repel invaders and defend the independence.

Makam Pahlawan Tak Dikenal
Because of the many fighters were killed and civilians who became victims of the 10th November 1945 so on this date is remembered as Heroes’ Day by the Republic of Indonesia until now.